Rabu, 14 November 2012

Menulis Itu Bukan “Salin-Tempel”


Kemarin ketika iseng-iseng “googling”, kebetulan saya menemukan sebuah tulisan yang sangat mirip dengan artikel blog saya. Tulisan yang di-posting sekitar setengah tahun lalu tersebut dari judul sampai pemilihan kata-nya sangat mirip, bahkan ternyata 99,9% sama dengan artikel yang pernah saya tulis di blog ini, walaupun tidak disertai rujukan apa pun. Perbedaan 0,1%-nya adalah satu kalimat yang sengaja ditambahkan oleh si penulis tersebut:


Saya juga tidak tahu kalau tidak di kasih tahu teman saya yang di Jepang.

Ternyata dia adalah seorang “teman” saya, tepatnya seorang “teman” di dunia maya yang dulu sering menghubungi saya (walaupun akhir-akhir ini sama sekali tidak…). Selain artikel tersebut, dia secara utuh “mengutip” beberapa artikel saya lainnya juga di situsnya sendiri, dan membalas komentar dari pembaca sebagai penulis artikel tersebut. Ketika saya menemukan situs tersebut, hanya satu kata yang muncul di benak saya: “Kenapa?”.

Karena, saya pernah menerima sebuah pesan dari “teman” itu. Intinya, karena artikel blog saya menarik dan mungkin berguna bagi teman-temannya yang ingin mengenal Jepang, maka dia minta izin kepada saya untuk memperkenalkannya dengan mencamtumkan sumber tulisan tersebut. Namun, kenyataannya, apa yang dia lakukan adalah hanya “mengklaim” saja.

Di dunia maya, “salin-tempel” tulisan orang lain itu tetap merupakan soal hati dan moral. Ada yang minta izin terlebih dahulu hanya untuk mengutip beberapa kalimat dari tulisan orang lain, sedangkan ada juga yang langsung “salin-tempel” secara utuh tanpa berpikir panjang, lalu tanpa rasa malu meng-uploadnya sebagai tulisannya sendiri. Memang “bebas”, terserah saja. Karena, mau tidak mau, cara mengutipnya tergantung pada moral pengguna masing-masing.

Terus terang, sekarang saya merasa agak sedih karena perbuatan yang tidak bermoral di atas dilakukan oleh orang yang selama ini saya anggap sebagai “teman”, apalagi orang itu pernah minta izin kepada saya sebagai status “teman”. Saya ingin katakan, menulis itu bukanlah “Salin-Tempel” tulisan orang lain. Lalu, bukankah “moral” itu tidak lain dari “menghargai usaha orang lain”?

6 komentar:

  1. harap maklum di dunia internet memang seperti itu adanya, Bung Iwan :)

    BalasHapus
  2. Terima kasih, Feri. Setidaknya, saya percaya pada teman-teman:D

    BalasHapus
  3. Tetap semangat oooomm!! Anggaplah dia sebagai fans mu :D Semnagat terus yaa! Jangan berhenti menulis! ^^)9

    BalasHapus
  4. Iya makasih banyak!:D

    BalasHapus
  5. Aku juga pernah mengemukakan pendapat yang sama di blog-ku, Taka-san.
    Aku rasa, memang sudah terlalu banyak blogger yang senang mengklaim artikel buatan orang lain tanpa memahami etika dan moral dalam menyebarkan suatu informasi. Sudah banyak blogger yang menekankan untuk tidak asal copy-paste atau copas, dan harus menyantumkan sumber. Ya gitu deh... Mungkin Dipikir Taka-san ga bakal tahu.
    Tenang aja Taka-san. Kalo aku ga suka cara seperti itu, aku lebih suka pakai "style" sendiri. Semangat terus saja untuk tetap menulis. Ganbatte!

    BalasHapus
  6. Sedih karena orang yang saya anggap sebagai "teman" melakukan hal seperti itu. Tapi, ya sudahlah, saya akan berusaha untuk menulis artikel yang lebih menarik.

    BalasHapus

Pengikut