Kategori

Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Januari 2013

Inilah Masakan Cowok Jepang (2) – Atas Nama Cinta untuk Tahu Isi


Tahu isi, masakan sederhana yang dibuat dari tahu dan taoge ini, mengapa begitu menarik perhatian saya? Rasa, aroma, dan bentuknya, semua itu masih jelas di ingatan saya sampai sekarang walaupun sudah 7 tahun berlalu sejak saya pulang dari Indonesia (kalau pedasnya cabe rawit, saya tidak mau ingat lagi :p). Waktu berada di Bandung, saya benar-benar suka tahu isi yang sering disebut “gehu” dalam bahasa Sunda itu, bahkan bisa dibilang saya jatuh cinta padanya. 

Namun sayangnya, kecintaan saya terhadap tahu isi ini tidak berarti apa-apa di Jepang. Di sini tidak ada sama sekali penjual gorengan yang berjualan di pinggir jalan. Dan lebih parahnya lagi, kalau kita ingin makan tahu isi di restoran Indonesia, kita harus membayar sekitar Rp. 60.000 - Rp. 90.000 per piring (walaupun harga ini tergolong normal di restoran Jepang).

Bagi saya, tahu isi bukanlah kuliner untuk dinikmati di restoran. Sama sekali bukan! Tahu isi yang ingin saya makan adalah tahu isi yang seperti camilan, bisa dimakan tanpa pikir panjang. Kalau tahu isi disajikan di restoran, mungkin saya agak susah untuk merasakan suasana Indonesia yang selalu saya rindukan (terlepas dari sifat pelit saya ya hehehe).

Saya ingin makan tahu isi yang seperti itu, tapi kayaknya sulit di Jepang. Baiklah, malam ini saya akan memasak tahu isi saya sendiri. Atas nama cintaku untuk tahu isi!

Kamis, 10 Januari 2013

Inilah Masakan Cowok Jepang! – Nasi Goreng Spesial Pake Natto


Kemarin, saya mendapat kiriman yang menyenangkan dari seorang teman Indonesia, sebut saja namanya Mas Joko. Isinya adalah banyak makanan Indonesia seperti kerupuk, indomie, kue, bumbu, dan Top Coffee (asyik!). Mas Joko yang saat ini menimba ilmu di Jepang mengirimkannya bersama dengan surat yang ia tulis dengan tangan. “Mudah-mudahan makanan ini dapat membangkitkan kenangan tentang Indonesia,” tulis Mas Joko dalam surat tersebut.


Saat melihat makanan Indonesia yang dikirimkan, pikiran saya langsung melayang ke kenangan 6 tahun yang lalu di Indonesia. Saat itu, saya sering makan nasi goreng di warung yang dekat dengan kost saya (kalau tidak salah, harganya lima ribu rupiah per porsi). Kangen sekali rasa nasi goreng waktu itu. Oiya, di dalam kiriman dari Mas Joko ternyata ada bumbu nasi goreng, sambal dan kecap. Baiklah, malam ini saya akan memasak nasi goreng!

Kamis, 15 November 2012

Sebuah Misteri: Angka Bunuh Diri di Indonesia

Kata orang, kebenaran selalu hanya ada satu. Namun pada kenyataannya, dunia ini penuh dengan misteri. Salah satu misteri yang barangkali membuat kita bertanya-tanya adalah angka bunuh diri di Indonesia.

Angka Bunuh Diri dan WHO

Ketika masalah bunuh diri di dunia dibahas, salah satu data yang paling sering diangkat adalah dari penelitian yang dilakukan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Misalnya, menurut laporan WHO, kasus bunuh diri di Jepang mencapai 24,4 per 100.000 orang pada tahun 2009. Angka semacam ini sering kali kita temukan di berbagai media massa. Lalu, bagaimana dengan di Indonesia?

Minggu, 12 Agustus 2012

Kenangan Panjat Pinang di Yogyakarta


“Eh Taka, mau ikut Panjat Pinang nggak?” seorang tutor tiba-tiba bertanya kepada saya. “Wah, apa sih Panjat Pinang tuh?”. “Panjat Pinang tuh… lomba yang asyik banget deh pokoknya hehehe” jawab dia sambil tertawa. “Ayo Taka, ikut aja yuk!”. “I.. iya.. oke!”

6 tahun yang lalu, saya yang saat itu sudah lulus dalam sebuah program pembelajaran di Indonesia sedang mengikuti orientasi di Yogyakarta (kalau tidak salah, tempatnya PPPG Matematika). Karena orientasi tersebut dimulai sejak awal bulan Agustus, pada tanggal 17 bulan tersebut, saya dan para peserta lainnya berkunjung ke sebuah desa di dekat tempat orientasi untuk merayakan HUT RI.

Banyak perlombaan hari Kemerdekaan yang dilakukan di sana dan kami pun cukup menikmati suasana tersebut. Ketika mendekati akhir perayaan, beberapa peserta dari program tersebut tiba-tiba diajak untuk berpartisipasi dalam Panjat Pinang. Memang kami semua sama sekali tidak tahu apa itu Panjat Pinang, tetapi mungkin karena penasaran, kami langsung menjawab “Iya!”.


Ketika kami pindah ke tempat perlombaan, di tengah sawah yang penuh lumpur ada sebatang pohon pinang yang setinggi 10 meter dan dilumuri oli. Dengan disaksikan penonton yang memenuhi lapangan desa, kami menghadapi perlombaan yang baru pertama kami alami sejak lahir.

Rabu, 18 Juli 2012

Panggil Kamu “Apa” atau Panggil Kamu “Siapa”?

Sekitar 2 bulan yang lalu, saya pertama kali membuat akun Twitter. Walau awalnya hanya untuk mengisi waktu luang saja, tetapi ternyata komunikasi lewat twitter ini cukup menyenangkan dan sepertinya cocok dengan saya. Karena biasanya berkicau dalam bahasa Indonesia, selama ini saya bisa berkenalan dengan teman-teman baru dari Indonesia melalui twitter (asyik!).

Namun bagi saya, ada sedikit masalah ketika berbalas-balasan mention di twitter. Karena di Twitter, penggunanya seringkali terlalu kreatif memilih ID/username-nya, makanya saya suka bingung harus memanggil apa**. Dalam komunikasi di dunia maya, memang tidak perlu menggunakan nama asli. Kalau mereka mau menggunakan nama yang “kreatif”, saya sendiri tidak berniat sengaja menanyakan nama asli mereka walau saya bingung harus memanggil apa. Di saat yang seperti itu, saya biasanya langsung menanyakan nama panggilannya: “o ya aku panggil kamu apa ya?".

Minggu, 24 Juni 2012

Kenangan di Makam Bung Karno


Saat memasuki bulan Juni, ada seorang tokoh yang terbayang di benak saya: Ir. Soekarno, Presiden Pertama Republik Indonesia. Proklamator kemerdekaan yang akrab disapa dengan “Bung Karno” ini lahir di Surabaya pada 6 Juni 1901 dan meninggal di Jakarta pada 21 Juni 1970. Pada bulan Juni ini, kabarnya, sejumlah kegiatan dilakukan di Indonesia dalam rangka memperingati 111 tahun hari lahir Bung Karno.

Bagi saya yang orang jepang, awalnya Bung Karno bukanlah tokoh yang membuat saya merasa “sesuatu”. Namun, selama setahun saya berada dan belajar di Indonesia, pikiran saya yang seperti itu ternyata benar-benar berubah. Salah satu alasannya adalah sebuah pengalaman pribadi ketika berkunjung ke makam Bung Karno.

Pengikut