Tahu isi, masakan sederhana yang dibuat dari tahu dan taoge ini, mengapa begitu menarik perhatian saya? Rasa, aroma, dan bentuknya, semua itu masih jelas di ingatan saya sampai sekarang walaupun sudah 7 tahun berlalu sejak saya pulang dari Indonesia (kalau pedasnya cabe rawit, saya tidak mau ingat lagi :p). Waktu berada di Bandung, saya benar-benar suka tahu isi yang sering disebut “gehu” dalam bahasa Sunda itu, bahkan bisa dibilang saya jatuh cinta padanya.
Namun sayangnya, kecintaan saya terhadap tahu isi ini tidak berarti apa-apa di Jepang. Di sini tidak ada sama sekali penjual gorengan yang berjualan di pinggir jalan. Dan lebih parahnya lagi, kalau kita ingin makan tahu isi di restoran Indonesia, kita harus membayar sekitar Rp. 60.000 - Rp. 90.000 per piring (walaupun harga ini tergolong normal di restoran Jepang).
Bagi saya, tahu isi bukanlah kuliner untuk dinikmati di restoran. Sama sekali bukan! Tahu isi yang ingin saya makan adalah tahu isi yang seperti camilan, bisa dimakan tanpa pikir panjang. Kalau tahu isi disajikan di restoran, mungkin saya agak susah untuk merasakan suasana Indonesia yang selalu saya rindukan (terlepas dari sifat pelit saya ya hehehe).
Saya ingin makan tahu isi yang seperti itu, tapi kayaknya sulit di Jepang. Baiklah, malam ini saya akan memasak tahu isi saya sendiri. Atas nama cintaku untuk tahu isi!








