Siapa yang tak kenal lagu "Kokoro no
Tomo" di Indonesia? Lagu yang dinyanyikan oleh Mayumi Itsuwa sejak tahun
1982 ini hingga sekarang tetap digemari oleh masyarakat Indonesia. Bahkan sebagian
dari merekaada yang menghafal lirik lagu tersebut
meskipun sama sekali tidak belajar bahasa Jepang. Kokoro no Tomo dapat
dikatakan salah satu lagu dalam bahasa Jepang yang terpopuler di Indonesia.
Saat memasuki bulan Juni, ada seorang tokoh yang terbayang di benak saya: Ir. Soekarno, Presiden Pertama Republik Indonesia. Proklamator kemerdekaan yang akrab disapa dengan “Bung Karno” ini lahir di Surabaya pada 6 Juni 1901 dan meninggal di Jakarta pada 21 Juni 1970. Pada bulan Juni ini, kabarnya, sejumlah kegiatan dilakukan di Indonesia dalam rangka memperingati 111 tahun hari lahir Bung Karno.
Bagi saya yang orang jepang, awalnya Bung Karno bukanlah tokoh yang membuat saya merasa “sesuatu”. Namun, selama setahun saya berada dan belajar di Indonesia, pikiran saya yang seperti itu ternyata benar-benar berubah. Salah satu alasannya adalah sebuah pengalaman pribadi ketika berkunjung ke makam Bung Karno.
Mengapa lagu “Nada Sousou (Derai Air Mata)” begitu dicintai oleh masyarakat Jepang? Lirik, melodi, suara penyanyi, ataupun Okinawa? Memang alasannya tidak jelas, tetapi selama lebih dari 10 tahun sejak dirilis, Nada Sousou selalu menyentuh hati kami, orang Jepang.
Nada Sousou, awalnya, diciptakan oleh Ryoko Moriyama (lirik) dan Begin (grup band akustik asal Okinawa, musik). Ryoko Moriyama pernah memasukkan lagu tersebut ke dalam albumnya pada tahun 1998, dan Begin pun meliris lagu yang sama sebagai lagu single pada tahun 2000. Namun sayangnya, versi mereka tidak mendapat perhatian besar. Nada Sousou mulai dikenal setelah Rimi Natsukawa, seorang penyanyi yang berasal dari Okinawa, mendaur ulang lagu tersebut pada tahun 2001.
Nada Sousou yang dibawankan oleh Rimi Natsukawa itu ternyata menjadi hit selama 3 tahun lamanya. Sampai pada saat ini, penjualan lagu tersebut sudah mencapai 1,2 juta kopi, dan kurang lebih 30 musisi Jepang dan musisi dari berbagai negara lain mendaur ulang Nada Sousou ini. Pada tahun 2006 pun, dirilis sebuah film berjudul “Nada Sousou” yang terinspirasi dari lagu tersebut. Bagi Rimi Natsukawa yang saat itu sama sekali tidak dikenal sebagai penyanyi, pertemuan dengan lagu Nada Sousou itu merupakan titik balik yang paling besar sepanjang karirnya.
“Adanya saya sekarang ini, berkat Nada Sousou. Bagi saya lagu ini sangat istimewa, sampai saya merasa jika tidak bertemu dengan lagu ini mungkin saya yang sekarang ini tidak ada,” tutur Natsukawa.
Karena Nada Sousou yang menjadi hit besar, saat ini Rimi Natsukawa dianggap sebagai penyanyi yang cukup populer di Jepang. Dia pernah mengatakan tentang dirinya sendiri dalam sebuah wawancara:
"Saya sendiri sangat suka menyanyi, jadi kalaupun ada yang hanya mendengarkan saya menyanyi saja saya sudah cukup senang, namun saya menjadi sangat senang ketika konser ada yang mengatakan " terima kasih, saya menjadi bersemangat (karena mendengar lagu anda)". Saya harap lagu saya dapat menjadi obat hati, penghibur hati , dan sumber semangat bagi sebanyak mungkin orang."
Seperti yang ditulis di awal artikel, memang tak jelas alasannya mengapa Nada Sousou selama ini begitu dicintai oleh masyarakat Jepang. Namun, bukankah perasaan Rimi Natsukawa yang murni dan tulus sebagai penyanyi, seperti yang ditunjukkan pada wawancara di atas, yang menjadi salah satu alasannya?
Berikut ini adalah lagu "Nada Sousou" dan terjemahan lirik lagunya:
Proyek 13 adalah salah satu lagu milik Iwan Fals dari album Cikal yang dikeluarkan pada tahun 1991. Menurut keterangan dari Iwan Fals, judul Proyek 13 mengandung arti “proyek bawa sial” karena angka 13 (tiga belas) terkadang dianggap “unlucky” di Indonesia. Seperti yang ditunjukkan oleh frasa “bawa sial” tersebut, Iwan Fals menggambarkan kekhawatiran yang kuat terhadap Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) dalam lagu Proyek 13.
Meskipun kurang paham tentang radiasi
Meskipun kurang paham tentang uranium
Meskipun kurang paham tentang plutonium
Ku tahu radioaktif panjang usia
Aku tak tahu sampahnya ada dimana
Aku tak tahu pula cara menyimpannya
Aku tak yakin tentang pengamanannya
Karena kebocoran pun ada disana
Sama sekali ku tak anti teknologi
Tapi aku lebih percaya pada hati
Aku tahu listrik penting buat industri
Tapi industri jangan ancam masa depan
Informasi tentang ini harus diberikan
Bahaya dunia maju harus disingkirkan
Rasa gengsi tak perlu diteruskan
Pembangunan PLTN harap hentikan
Aku lebih suka tenaga matahari
Aku lebih suka tenaga panas bumi
Aku lebih suka dengan tenaga angin
Aku lebih suka tenaga arus laut
(Proyek 13)
Proyek 13 bukanlah lagu yang mengkritik PLTN dari sudut pandang keahlian. Seperti yang dinyanyikan: “meskipun kurang paham tentang radiasi”, atau “aku tak tahu sampahnya ada di mana”, Iwan Fals sendiri mengakui bahwa ia kurang paham sebenarnya apa itu PLTN. Namun, dengan menggunakan lirik lagu yang mengingatkan tragedi Chernobyl pada tahun 1986, dia memperingatkan keselamatan PLTN yang sangat berisiko.
“Yang saya tahu hanyalah efek radiasi nuklir akan terus tersisa untuk waktu yang lama. PLTN sendiri mungkin hal yang baik bagi kehidupan manusia, tapi risikonya terlalu besar,” tutur Iwan dalam sebuah wawancara.
Dalam lagu Proyek 13, bukan berarti Iwan Fals menolak teknologi, bahkan dia mengakui pula bahwa listrik adalah kebutuhan industri. Namun, dengan mengisyaratkan adanya energi alternatif seperti tenaga matahari, tenaga panas bumi, tenaga arus laut, dan tenaga angin, dia mengimbau untuk menghindari risiko yang begitu besar terhadap keselamatan PLTN. Kekhawatirannya yang diceritakan dalam Proyek 13 ditujukan hanya ke satu hal, yaitu keselamatan PLTN.
Iwan Fals yang menentang keras PLTN yang dapat membahayakan manusia. Sudut pandangnya tak berubah sama sekali sejak lagu Proyek 13 dirilis pada tahun 1991. Dan, salah satu inspirasi Proyek 13 ini adalah rencana pembangunan PLTN di kabupaten Jepara-Jawa Tengah.
Bersambung ke Iwan Fals dan Soal PLTN (3) – Jepara dan Fukushima: “Kalau sampai PLTN berdiri, aku akan berhenti main musik”
Apakah ada lagu berbahasa Indonesia yang terkenal di Jepang? Jawabannya tentu saja, Ya! Di Jepang pun, ada lagu hit yang dinyanyikan dalam bahasa Indonesia seperti lagu "Kokoro no Tomo" di Indonesia. “Mosura no Uta (Lagu Mothra)”, inilah judul lagunya.
Lagu Mothra dirilis pada tahun 1961 sebagai musik tema film “Mothra”, salah satu film fiksi sains yang merepresentasikan Jepang. Seperti yang ditunjukkan dalam foto dan video di atas, Mothra adalah monster fiktif, yang berbentuk ngengat* dan yang dianggap “dewa pelindung” bagi masyarakat di sebuah pulau kecil yang terletak di Lautan Teduh Selatan. Dalam film, Lagu Mothra digunakan sebagai ritual untuk memanggil Mothra.
*Kata Mothra sendiri, asal usulnya datang dari kedua kata bahasa Inggris “moth” dan “mother”, maka mempunyai arti “induk ngengat”.
Sepenggal lirik lagu milik Iwan Fals di atas mungkin belum banyak yang mengenalnya. Lagu berjudul “Harapan Tak Boleh Mati” ini dibuat, ketika bencana tsunami meluluhlantakkan Aceh, 26 Desember 2004 silam. Iwan Fals yang saat itu turut merasakan kepedihan akibat bencana alam di Aceh, menceritakannya dalam petikan lirik lagu sebagai berikut:
Akhirnya L'Arc~en~Ciel akan datang ke Indonesia. Grup band cadas asal Jepang ini dipastikan akan mengadakan konser di Indonesia pada 2 Mei 2012 mendatang. Mereka yang akrab disapa dengan "Raruku*" di Jepang, merencanakan tur konser bertajuk "L'Arc~en~Ciel 20th Anniversary World Tour" di 10 kota di Asia, Eropa dan AS. Indonesia dipilih sebagai salah satu tempat tur konser tersebut untuk daerah Asia selain China, Thailand, Taiwan, Singapura dan Korea Selatan.
*Di Jepang, nama L'Arc~en~Ciel biasanya disingkat sebagai "Raruku", bukan "Laruku" karena tidak ada pelafalan "L" dalam bahasa Jepang.
L'Arc~en~Ciel yang beranggotakan Hyde (vokalis), Ken (gitaris), Tetsuya (bassis) dan Yukihiro (drummer) ini dibentuk pada 1991. Telah 20 tahun lamanya, mereka berkiprah di dunia musik sebagai salah satu band rock terpopuler di Jepang. Bahkan akhir-akhir ini, aktivitas musik mereka tidak hanya dilakukan di Jepang, tetapi juga meluas ke seluruh dunia. Di Indonesia pun, setahu saya, nama band L'Arc~en~Ciel yang berarti "pelangi" dalam bahasa Perancis itu sudah cukup terkenal di antara para pecinta musik Jepang.
Dalam artikel kali ini, saya akan memperkenalkan lagu "Honey" yang dirilis pada tahun 1998 sebagai lagu single* ke-10 mereka, dan mencoba menerjemahkan liriknya ke dalam bahasa Indonesia.
*Lagu Single berarti lagu yang dipromosikan melalui media, dan kata ini digunakan terhadap berbagai format seperti Piringan Hitam, CD atau file digital yang bisa diunduh dari internet. Di Jepang, lagu Single biasanya dianggap lebih penting karena beberapa lagu Single dirilis terlebih dahulu, dan setelah itu, album berisi lagu-lagu single tersebut baru dibuat.
Lagu Honey adalah lagu terlaris sepanjang karir mereka. Sampai pada saat ini, lagu ini telah terjual lebih dari 1.2 juta kopi. Di Jepang, lagu ini cukup terkenal tidak hanya bagi para penggemarnya, tetapi juga bagi kalangan yang tidak begitu mengenal L'Arc~en~Ciel. Jika ditanya mengenai salah satu lagu apa yang mewakili mereka, kemungkinan banyak orang Jepang akan memilih lagu Honey ini .
Selanjutnya, mari kita dengar lagu Honey. Mungkin ada yang merasa bingung saat membaca lirik lagu tersebut, tetapi tak perlu khawatir kawan, karena saya sendiri kurang mengerti makna lirik lagu yang ingin disampaikan oleh penciptanya (hahaha…:P). Namun bagaimanapun juga, aksi panggung mereka memang sangat luar biasa. Kita nikmati dulu yuk!
Konser L'Arc~en~Ciel pada tahun 2004
(Mudah-mudahan lagu Honey ini akan dinyanyikan pada konser di Indonesia:)
L'Arc~en~Ciel - HONEY
ずっと眺めていた (Zutto nagamete ita)
遠く幼い頃から (Tooku osanai koro kara)
今も色褪せたその景色は (Ima mo iroaseta sono keshiki wa)
真白な壁に飾ってある (Masshiro na kabe ni kazatte aru)
Telah lama aku memandangnya
Dari sejak saat aku kecil
Pemandangan yang telah pudar itu
Masih menghiasi dinding putih
Reff:
かわいた風をからませ (Kawaita kaze o karamase)
あなたを連れてくのさ (Anata o tsureteku no sa)
honey so sweet 限りない夢を (Kagirinai yume o)
この両手につかんで (Kono ryoute ni tsukande)
Dengan diselimuti angin yang kering
Aku akan membawakanmu Honey so sweet, mimpi yang tak terbatas
Ku pegang dengan dua tangan ini
転がってゆく道で (Korogatteiku michi de)
少しイカレタだけさ (Sukoshi ikareta dake sa)
深い痛みはとれないけど (Fukai kanashimi wa torenai kedo)
そんな哀しい目をしないで (Sonna kanashii me o shinaide)
Di jalan yang panjang berliku
Aku hanya sedikit menjadi “miring”
Meskipun luka yang dalam itu takkan hilang
Namun jangan lihat ku dengan mata yang begitu sedih
かわいた風をからませ (Kawaita kaze o karamase)
あなたを連れてくのさ (Anata o tsureteku no sa)
honey so sweet 信じてほしい (shinjite hoshii)
この世界が嘘でも (Kono sekai ga uso demo)
Dengan diselimuti angin yang kering
Aku akan membawakanmu Honey so sweet, percayalah padaku
Meskipun dunia ini adalah kebohongan
Selalu, selalu,
Aku ingin senyuman manismu meluluhkan hatiku
運命が僕をつかんで (Unmei ga boku o tsukande)
あたりはかすんでくけど (Atari wa kasundeku kedo)
ふさがないで 聴こえるだろう (Fusaganai de kikoeru darou)
あの場所が呼んでる (Ano basho ga yonderu)
Tangan nasib memegang ku
Semakin tak jelas arahnya
Namun jangan tutup telingamu, mungkin kamu bisa mendengarkannya
“Tempat itu” memanggil
Kembali ke Reff:
I want to fly,waitin'for sunrise... I want to fly,waitin'for sunrise...
Hari ini adalah Hari Ibu. Seperti lagu "Ibu (Iwan Fals)" atau "Bunda (Melly Goeslow)", sudah banyak lagu bertema bunda yang dirilis di Indonesia. Lirik lagu-lagu tersebut sangat cocok dengan suasana Hari Ibu ini. Tetapi, bukan hanya lagu di Indonesia saja, di Jepang pun banyak lagu tentang bunda dan kasih sayangnya. Salah satu dari lagu-lagu tersebut adalah "Mirai E (Menuju Masa Depan)" yang dinyanyikan oleh Kiroro.
Kiroro adalah grup musik Jepang dari Okinawa* yang beranggotakan Chiharu Tamashiro (vokalis) dan Ayano Kinjou (piano). Mereka melakukan debut besar pada Januari 1998 dengan lagu "Nagai Aida (Telah Lama)" yang pada saat itu sempat menjadi hit besar (sampai terjual lebih dari 1 juta kopi). Lagu "Mirai E" adalah lagu single kedua mereka yang dirilis pada Juni 1998.
*Okinawa adalah prefektur paling selatan di Jepang, yang terletak di dekat pulau Taiwan.
Saya sendiri, saat masih duduk di bangku SMP, suka mendengarkan lagu-lagu Kiroro. Di antaranya, "Mirai E" adalah salah satu lagu kesukaan saya. Berikut ini adalah lagu "Mirai E" dan terjemahan lirik lagu nya. Sepertinya tidak perlu saya jelaskan lagi isi lirik lagunya. Silakan dengar dulu, teman-teman!
Kemarin saya menerima sebuah pesan pribadi yang sangat menarik dari seorang teman dari Indonesia. Menurutnya, dia sangat suka lagu Jepang Watarase Bashi (Jembatan Watarase) yang dinyanyikan oleh Aya Matsuura* sampai merasa terharu setiap mendengar lagu tersebut, tetapi sayangnya masih ada beberapa bagian yang sulit untuk dimengerti dalam liriknya. Kalau tidak keberatan, bisakah menjelaskan isi lagu tersebut. Kira-kira begitulah bunyi pesannya.
*Sebenarnya lagu Watarase Bashi bukanlah lagu asli dari Aya Matsuura. Lagu aslinya dinyanyikan oleh Chisato Moritaka (idola dan penyanyi populer pada tahun 90-an) pada tahun 1993, setelah itu Aya Matsuura mendaur ulang lagu tersebut pada tahun 2004
Saya merasa sangat senang saat membaca pesan itu, karena kebetulan lagu Watarase Bashi adalah lagu kesukaan saya juga. Baiklah kawan, berikut ini saya akan menjelaskan isi lagunya dan mencoba untuk menerjemahkan liriknya ke dalam bahasa Indonesia.
Isi lagunya adalah mengenai seorang wanita yang tetap merindukan mantan pacarnya walaupun mereka telah berpisah. Mereka berpisah bukan karena saling membenci tetapi karena perbedaan pendapat mengenai tempat tinggal mereka berdua.
Wanita itu ingin tinggal bersama dengan pacarnya di kota tempat kelahirannya. Pacarnya juga ingin tinggal bersama, tetapi dia berharap wanita itu mau pindah dari kota kelahirannya dan ikut dengannya. Saat itu di antara mereka berdua kemungkinan ada masalah keluarga, kerja atau uang, dll (alasannya tidak tertulis dalam liriknya). Mereka sungguh bersedih tentang hal ini, namun akhirnya mereka terpaksa memilih jalan mereka masing-masing.
Dalam lirik lagu ini, jembatan Watarase itu digunakan sebagai simbol kenang-kenangan mereka berdua.
Jembatan itu benar-benar ada di sebuah kota di prefektur Tochigi, Jepang. Chisato Moritaka, penyanyi dan pencipta lagu Watarase Bashi, mendapat inspirasi lirik lagunya dari Jembatan itu ketika berkunjung di kota tersebut. Menurut Wikipedia, saat ini jembatan itu menjadi salah satu tempat pariwisata yang terkenal karena lagu Watarase Bashi menjadi hit.
Selanjutnya, mari kita mendengar lagu Watarase Bashi yang dinyanyikan oleh Aya Matsuura.